Minggu, 25 Desember 2016

PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL NUSANTARA MELALUI SIARAN RADIO



PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL NUSANTARA
MELALUI SIARAN RADIO

Essay oleh :
INDRIANA MEGA KRESNA
ILMU KOMUNIKASI UNS 2106

I. ABSTRAKSI
                   Kata “Globalisasi” kini menjadi hal yang tidak asing lagi di telinga masyarakat. Globalisasi menurut Malcom Waters merupakan sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma didalam kesadaran orang. Globalisasi telah membawa pengaruh yang besar dalam tatanan kehidupan masyarakat dunia tak terkecuali masyarakat Indonesia. Cepatnya perkembangan iptek juga merupakan salah satu dampak dari proses globalisasi. Adanya perkembangan ilmu pegetahuan dan teknologi yang tersebar dengan cepat tentu akan membawa sebuah dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif. Dampak-dampak tersebut meliputi bidang ideologi, ekonomi dan juga bidang sosial budaya. Contohnya, pada bidang sosial budaya, globalisasi membawa dampak positif seperti meningkatnya ilmu pengetahuan dan perkembangan pola pikir ke arah yang lebih modern. Sedangkan dampak negatif globalisasi dalam bidang sosial budaya adalah seperti meningkatnya individualisme, pragmatisme, materialsme, hedonisme, serta konsumerisme. Tidak adanya filterisasi yang dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi globalisasi dapat menyebabkan berbagai dampak yang merugikan masyarakat, seperti contoh hilangnya nilai-nilai luhur yang merupakan jati diri bangsa seperti sikap gotong royong, ramah tamah, dan toleransi, yang disebabkan oleh sikap meterialisme dan individualisme yang semakin tinggi. Hal tersebut harus segera diatasi  agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati diri aslinya. Globalisasi juga menyebabkan terjadinya pembaruan teknologi yang semakin canggih dari masa ke masa. Kemajuan teknologi seperti halnya smarthphone mengakibatkan turunnya pemanfaatan media massa lain seperti radio karena masyarakat lebih memilih menggunakan smarthphone dalam mencari informasi. Dengan menurunnya jumlah pendengar media massa radio, maka akan menyebabkan penurunan tingkat penyebaran informasi. Radio yang dapat menjangkau daerah pelosok harusnya menjadi media massa yang dapat dimanfaatkan sebagai agen sosialisasi mengenai kearifan lokal nusantara yang eksistensi nilai serta normanya mulai luntur digantikan oleh budaya asing yang terbawa oleh arus globalisasi.

Kata kunci : Globalisasi, kearifan lokal, media massa, radio

 II. PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Media massa menjadi elemen yang penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Menurut Leksikon Komunikasi, media massa adalah sarana penyampai pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luar misalnya radio, televisi, dan surat kabar. Media massa dapat dibedakan menjadi tiga jenis  yaitu media massa cetak, media massa elektronik, dan media massa  online seperti yang banyak ditemukan di internet atau situs web. Media massa yang kini menjadi suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat tentu memiliki peran tersendiri bagi tiap individu. Denis McQuail (1987) mengemukakan sejumlah peran yang dimainkan oleh media massa selama ini, yaitu : 1. Industri pencipta lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industri lain utamanya dalam periklanan/promosi. 2. Sumber kekuatan-alat kontrol, manajemen, dan inovasi masyarakat. 3. Lokasi (forum) untuk menampilkan peristiwa masyarakat. 4. Wahana pengembang kebudayaan tatacara, mode, gaya hidup, dan norma. 5. Sumber dominan pencipta citra individu, kelompok, dan masyarakat.
            Dari jenis-jenis media massa sebagaimana yang telah disebutkan di atas, salah satu media massa yang telah lama digunakan di Indonesia adalah radio. Radio yang ditemukan oleh Guglielmo Marconi telah digunakan di Indonesia pada sekitar tahun 1930-an.  Radio merupakan media massa yang memiliki andil besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, dimana radio menjadi salah satu media massa yang menyiarkan pidato penuh semangat perjuangan dari Bung Tomo pada tanggal 10 November 1945 serta  menyebarkan berita proklamasi pada masa itu. Pada era kemerdekaan, radio memang memegang peran yang sangat penting dalam hal penyebaran informasi. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman yang diikuti dengan perkembangan teknologi, menjadikan radio mengalami penurunan peminat atau pendengar. Berdasarkan riset yang dipublikasikan oleh VOA Indonesia pada jelang akhir tahun 2012, didapatkan data yaitu sebanyak 11% dari penduduk Indonesia yang senantiasa memperoleh informasi dari radio, dan sebanyak 1% masyarakat mendengarkan radio melalui internet (streaming). Berdasarkan data tersebut, tentu dapat disimpulkan bahwa peminat media massa radio masih terbilang minim. Peminat radio jauh lebih sedikit daripada peminat TV yang mencapai angka 87%.
            Kurangnya minat masyarakat terhadap radio tentu disebabkan oleh alasan-alasan tertentu, seperti acara siaran yang kurang menarik karena tidak terdapat bentuk sajian visual seperti yang ditawarkan oleh TV dan situs berita online melainkan hanya bisa dinikmati melalu indera pendengaran. Selain itu, isi konten radio yang dianggap monoton dan kurang bervariasi serta anggapan “kuno” menjadi hal lain yang menyebabkan radio kini kurang diminati khususnya oleh kalangan muda. Isi atau konten yang kurang bermutu dan bersifat tidak edukatif yang kini sering ditampilkan oleh media massa tentu juga menjadi salah satu masalah yang harus segara diselesaikan. Tidak hanya itu, derasnya arus globalisasi juga menjadi salah satu alasan kenapa radio kini kurang diminati oleh masyarakat. Globalisasi yang berdampak pada kemajuan dibidang iptek menyebabkan masyarakat lebih memilih teknologi yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman seperti smartphone yang telah dilengkapi berbagai fitur menarik termasuk internet yang dapat digunakan sebagai media dalam mengakses informasi atau sebuah berita. Semakin berkembangnya fitur dalam smarthphone menyebabkan semakin menurunnya pemanfaatan media massa seperti koran dan radio oleh masyarakat karena menggunakan smartphone dinilai lebih praktis dan efisien. Apabila pemanfaatan media massa terus menerus mengalami penurunan, maka media massa itu sendiri akan mengalami kesulitan dalam melakukan perannya. Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa media massa memiliki peran sebagai wahana pengembang kebudayaan tatacara, mode, gaya hidup, dan norma. Maka, seharusnya pemanfaatan media massa dapat dioptimalkan sebaik mungkin, salah satunya ialah dengan melalui radio. Banyaknya siaran radio yang hanya sekedar memberikan hiburan tanpa mempertimbangkan sisi informatif dan edukatif harus segera dibenahi. Penyiaran radio dengan isi konten yang informatif, edukatif, dan juga menghibur dapat dilakukan dengan cara pengadaan program pengenalan budaya Indonesia yang memiliki berbagai macam kearifan lokal yang kini mulai tergerus oleh arus globalisasi.
            Kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia harus terus dipertahankan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kearifan lokal yang menjadi salah satu jati diri bangsa Indonesia harus terus disosialisasikan kepada masyarakat dengan berbagai cara seperti penyebaran informasi melalui media massa radio. Radio yang mampu menyebarkan informasi secara luas hingga melewati batas geografis serta harganya yang terbilang cukup terjangkau juga sistem operasionalnya yang tidak rumit dapat menjadikan radio sebagai media massa yang mampu dan tepat dalam menyebarkan informasi khususnya mengenai kearifan lokal bangsa Indonesia sehingga kearifan lokal tersebut bisa tetap terjaga dan lestari.

PEMBAHASAN/ISI

                   Menurut Wikipedia, radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Cara operasionalnya yang menggunakan gelombang elektromagnetik menjadikan radio sebagai media massa yang memungkinkan untuk merambah daerah-daerah yang berada di wilayah pelosok. Hal tersebut menjadi suatu hal yang positif karena dengan begitu radio mampu mendongkrak penyebaran infromasi dan berita hingga ke wilayah yang mungkin belum mampu dijangkau oleh media massa lain seperi TV. Akses penggunaan radio yang bisa diperoleh dengan cukup mudah juga menjadi nilai plus bagi radio sebagai salah satu media massa yang mampu mengoptimalkan penyebaran informasi edukatif seperti ragam kearifan lokal nusantara.
                   Kearifan lokal adalah segala bentuk kebijaksanaan yang didasari oleh nilai-nilai kebaikan yang dipercaya, diterapkan dan senantiasa dijaga keberlangsungannya dalam kurun waktu yang cukup lama (secara turun-temurun) oleh sekelompok orang dalam lingkungan atau wilayah tertentu yang menjadi tempat tinggal mereka. Sedangkan dalam UU NO.32 Tahun 2009 kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku di dalam tata kehidupan masyarakat yang bertujuan untuk melindungi sekaligus mengelola lingkungan hidup secara lestari. Kearifan lokal itu sendiri dapat terwujud dalam beberapa bentuk, seperti :
1. Pola pikir masyarakat yang berbudi pekerti baik.
2. Perasaan mendalam terhadap tanah kelahiran.
3. Bentuk perangai/tabiat masyarakat kebanyakan pada daerah tertentu yang akan tetap melekat dan dibawa saat berbaur dengan kelompok masyarakat/lingkungan yang berbeda.
4. Filosofi hidup masyarakat tertentu yang mendarah daging dan tetap lekat meski telah lama hidup di perantauan.
5. Keinginan besar untuk tetap menjalankan adat/tradisi yang telah lama diikuti secara turun-temurun.
                   Kearifan lokal tumbuh dan menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat itu sendiri, yang kemudian membentuk sebuah tatanan nilai dan norma yang dijadikan oleh masyarakat setempat sebagai acuan dalam bertindak dan berperilaku. Pada setiap daerah di Indonesia tentu memiliki kearifan lokal yang berbeda mengingat budaya Indonesia yang sangat beragam. Meskipun tiap daerah memiliki kearifan lokal yang berbeda, kearifan lokal tersebut tetap mengandung nilai-nilai luhur yang mencerminkan jati diri bangsa. Adapun contoh kearifan lokal yang terdapat di Indonesia seperti etnis Lampung yang terkenal terbuka dalam menerima etnis lain sebagai saudara (adat muari, angkon), etnis Jawa yang terkenal dengan tata-krama dan perilaku yang lembut, serta nilai-nilai lain seperti gotong royong, toleransi, dan rasa cinta terhadap alam yang pada dasarnya terdapat pada hampir setiap kearifan lokal yang tersebar di seluruh nusantara.
                   Dewasa ini, nilai-nilai luhur yang bersumber dari kearifan lokal nusantara lama-kelamaan mulai tedesak keberadaannya karena adanya pengaruh dari globalisasi. Globalisasi yang mengaburkan sekat-sekat antarbangsa tentu mempermudah budaya asing untuk masuk ke dalam negeri. Budaya asing yang tidak mampu diserap dengan baik oleh masyarakat maka akan menimbulkan penyimpangan dalam kehidupan masyarakat seperti pola perilaku masyarakat Indonesia yang menjadi konsumtif, meningkatnya rasa individualisme dan meningkatnya hedonisme. Hal-hal negatif tersebut tentu bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur dari kearifan lokal nusantara yang notabennya selalu mencerminkan sikap gotong royong, toleransi, dan ajaran untuk selalu “down to earth”. Lunturnya nilai-nilai positif dari beragam kearifan lokal nusantara yang seharusnya terus menerus dibudayakan dapat menyebabkan hilangnya jati diri bangsa dan perubahan tatanan sosial dalam masyarakat akibat pergeseran terhadap nilai dan norma yang berlaku.
                   Kearifan lokal yang merupakan refleksi kepribadian bangsa Indonesia dan mengandung pengajaran positif sejatinya tidak boleh hilang dari dalam diri tiap rakyat Indonesia. Kearifan lokal harus terus dijaga dan dilestarikan dengan menempuh berbagai cara. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melakukan sosialisasi mengenai keberanekaragaman kearifan lokal nusanntara melalui media massa radio. Radio yang mampu mencakup siaran hingga ke daerah pelosok akan lebih memudahkan proses sosialisasi tentang kearifan lokal kepada para masyarakat. Sosialisasi mengenai ragam kearifan lokal nusantara dapat dilakukan melalui siaran radio yang membahas tentang berbagai macam kebudayaan di Indonesia. Siaran radio juga harus mulai memutar musik atau lagu-lagu tradisional. Banyaknya anggapan bahwa musik tradisional adalah jenis musik yang membosankan dan tidak menarik, maka hal tersebut dapat diatasi dengan memutar musik atau lagu tradisional yang telah diaransemen. Pemutaran musik kedaerahan harus lebih sering dilakukan agar masyarakat lebih mengenal kebudayaannya sendiri. Selain itu, musik atau lagu tradisional bukanlah sekedar lagu seperti lagu-lagu pop dewasa ini yang memiliki lirik kurang edukatif. Pada setiap musik dan lagu tradisional nusantara pasti memiliki filosofi tersendiri dan terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung didalamnya baik secara tersirat maupun tersurat. Salah satu contohnya adalah lagu tradisional dari Jawa yang berjudul Lir Ilir. Di dalam lagu tersebut terdapat nilai-nilai yang mengajarkan untuk senantiasa bangkit dari keterpurukan, bangun dari sifat malas, dan mengajarkan untuk selalu meningkatkan keimanan kepada sang pencipta. Lagu-lagu tradisional yang mengandung kearifan lokal tersebut harus terus diperdengarkan melalui radio agar tetap dapat dilestarikan serta nilai-nilai yang terdapat dalam kearifan lokal dalam masing-masing lagu tradisional dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lebih mengoptimalkan siaran mengenai ragam kearian lokal, maka dapat dibuat sebuah segmen khusus dalam sebuah siaran radio dimana segmen tersebut adalah segmen yang menyajikan berita atau memberikan informasi mengenai ragam budaya Indonesia dan kearifan lokal nusantara yang terkandung di dalamnya. Segmen yang mensosialisaikan ragam kearifan lokal nusantara tersebut dapat diisi dengan pemutaran musik atau lagu tradisional atau bahkan lagu kebangsaan, interview dengan tokoh yang memiliki kontribusi dalam bidang budaya, pembahasan mengenai suatu budaya tertentu yang dilakukan secara mendetail, serta penyiaran budaya daerah seperti penyiaran kesenian wayang. Di dalam segmen tersebut juga perlu diadakan sebuah forum sharing dengan pendengar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kearifan lokal nusantara sehingga pendengar tidak hanya menerima informasi dari penyiar atau narasumber yang berada dalam sebuah siaran radio, melainkan juga dapat memberikan sebuah wawasan kepada masyarakat lain sehingga ciri khas media massa radio yang sering melakukan dialog interaktif dengan audience tetap dapat dilestarikan. Adanya sharing yang dilakukan dengan audience juga meupakan salah satu cara agar masyarakat turut aktif terlibat dalam siaran radio tersebut.
                   Optimalisasi dalam hal penggunaan radio oleh masyrakat juga harus lebih ditingkatkan. Perlu diadakan gerakan yang mengkampanyekan penggunaan radio sebagai media massa yang edukatif. Sukses atau tidaknya pemanfaatan radio sebagai media massa yang mensosialisasikan kearifan lokal nusantara tentu juga tergantung pada masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia harus memiliki kesadaran diri untuk “melek” media massa dan menyudahi anggapan mereka terhadap radio sebagai media massa yang kuno dan terbelakang. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran apabila kearifan lokal nusantara merupakan sebuah asset bangsa yang harus selalu dijaga dan dilestarikan. Tidak hanya itu, diperlukan juga kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan pihak yang berkecimpung dalam bidang radio di Indonesia agar dapat menjadikan radio sebagai media massa yang peduli terhadap kearifan lokal nusantara.
                  
 PENUTUP
                   Globalisasi merupakan sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting seolah tak ada lagi sekat-sekat wilayah antara wilayah satu dengan wilayah yang lain yang menyebabkan mudahnya arus pertukaran informasi yang dapat dilakukan dengan cepat karena diimbangi dengan perkembangan teknologi yang mumpuni. Kemudahan dalam hal pertukaran informasi mengakibatkan mudahnya budaya asing yang menyimpang dari tantanan nilai dan norma masyarakat masuk ke dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Masuknya budaya asing yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku menyebabkan nilai-nilai luhur yang sejatinya terkandung dalam kearifan lokal nusantara menjadi luntur dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, perlu diadakan sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus mengenai pentingnya pelestarian kearifan lokal nusantara melalui media massa radio. Radio dipilih sebagai media massa yang mensosialisasikan hal tersebut karena radio mampu menjangkau wilayah yang sangat luas bahkan hingga ke daerah pelosok. Adapun hal-hal yang bisa dilakukan melalui radio dalam hal pelestarian kearifan lokal nusantara ialah dengan mengadakan segmen khusus dalam siaran radio yang menyiarkan informasi mengenai ragam kearifan lokal, budaya, dan kesenian masyarakat Indonesia. Program pelestarian kearifan lokal nusantara melalui radio tersebut harus digalakkan secara terus-menerus sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai ragam kearifan lokal nusantara dapat kembali dan senantiasa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat serta menjadikan radio sebagai media massa yang kembali eksis dengan konten berbobot ditengah-tengah masyarakat. Tidak hanya radio yang diharapkan akan kembali eksis, tetapi juga ragam kearifan lokal nusantara yang kembali diaplikasikan dalam tatanan hidup masyarakat Indonesia.
   
DAFTAR PUSTAKA/SUMBER
http://www.zonasiswa.com (Pengertian Globalisasi : Segi Bahasa, Istilah, & Pendapat Para Ahli)
http://diluarpengetahuan.blogspot.com (Dampak Positif Dan Negatif Globalisasi Bidang Sosial Budaya)
http://buihkata.blogspot.com (Sejarah Singkat Perkembangan Radio di Indonesia)
http://www.pengertianmenurutparaahli.net/ (Pengertian kearifan lokal secara umum)
http://reload.mwb.im/ (Makna lagu Lir Ilir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar