PELESTARIAN
KEARIFAN LOKAL NUSANTARA
MELALUI SIARAN RADIO
MELALUI SIARAN RADIO
Essay oleh :
INDRIANA
MEGA KRESNA
ILMU
KOMUNIKASI UNS 2106
I. ABSTRAKSI
Kata “Globalisasi” kini
menjadi hal yang tidak asing lagi di telinga masyarakat. Globalisasi menurut
Malcom Waters merupakan sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan
geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma
didalam kesadaran orang. Globalisasi telah membawa pengaruh yang besar dalam
tatanan kehidupan masyarakat dunia tak terkecuali masyarakat Indonesia.
Cepatnya perkembangan iptek juga merupakan salah satu dampak dari proses
globalisasi. Adanya perkembangan ilmu pegetahuan dan teknologi yang tersebar
dengan cepat tentu akan membawa sebuah dampak, baik dampak positif maupun dampak
negatif. Dampak-dampak tersebut meliputi bidang ideologi, ekonomi dan juga
bidang sosial budaya. Contohnya, pada bidang sosial budaya, globalisasi membawa
dampak positif seperti meningkatnya ilmu pengetahuan dan perkembangan pola
pikir ke arah yang lebih modern. Sedangkan dampak negatif globalisasi dalam
bidang sosial budaya adalah seperti meningkatnya individualisme, pragmatisme,
materialsme, hedonisme, serta konsumerisme. Tidak adanya filterisasi yang
dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi globalisasi dapat menyebabkan
berbagai dampak yang merugikan masyarakat, seperti contoh hilangnya nilai-nilai
luhur yang merupakan jati diri bangsa seperti sikap gotong royong, ramah tamah,
dan toleransi, yang disebabkan oleh sikap meterialisme dan individualisme yang
semakin tinggi. Hal tersebut harus segera diatasi agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati
diri aslinya. Globalisasi juga menyebabkan terjadinya pembaruan teknologi yang
semakin canggih dari masa ke masa. Kemajuan teknologi seperti halnya smarthphone
mengakibatkan turunnya pemanfaatan media massa lain seperti radio karena
masyarakat lebih memilih menggunakan smarthphone dalam mencari informasi. Dengan
menurunnya jumlah pendengar media massa radio, maka akan menyebabkan penurunan
tingkat penyebaran informasi. Radio yang dapat menjangkau daerah pelosok
harusnya menjadi media massa yang dapat dimanfaatkan sebagai agen sosialisasi
mengenai kearifan lokal nusantara yang eksistensi nilai serta normanya mulai
luntur digantikan oleh budaya asing yang terbawa oleh arus globalisasi.
Kata
kunci : Globalisasi, kearifan lokal, media massa, radio
II. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Media massa menjadi elemen yang
penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Menurut Leksikon Komunikasi, media massa adalah sarana penyampai pesan yang
berhubungan langsung dengan masyarakat luar misalnya radio, televisi, dan surat
kabar. Media massa dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu media massa cetak, media massa
elektronik, dan media massa online
seperti yang banyak ditemukan di internet atau situs web. Media massa yang kini
menjadi suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat tentu memiliki
peran tersendiri bagi tiap individu. Denis McQuail (1987) mengemukakan sejumlah
peran yang dimainkan oleh media massa selama ini, yaitu : 1. Industri pencipta
lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industri lain utamanya
dalam periklanan/promosi. 2. Sumber kekuatan-alat kontrol, manajemen, dan
inovasi masyarakat. 3. Lokasi (forum) untuk menampilkan peristiwa masyarakat.
4. Wahana pengembang kebudayaan tatacara, mode, gaya hidup, dan norma. 5.
Sumber dominan pencipta citra individu, kelompok, dan masyarakat.
Dari jenis-jenis media massa
sebagaimana yang telah disebutkan di atas, salah satu media massa yang telah
lama digunakan di Indonesia adalah radio. Radio yang ditemukan oleh Guglielmo
Marconi telah digunakan di Indonesia pada sekitar tahun 1930-an. Radio merupakan media massa yang memiliki andil
besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, dimana radio menjadi salah
satu media massa yang menyiarkan pidato penuh semangat perjuangan dari Bung
Tomo pada tanggal 10 November 1945 serta menyebarkan berita proklamasi pada masa itu. Pada
era kemerdekaan, radio memang memegang peran yang sangat penting dalam hal penyebaran
informasi. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman yang diikuti dengan perkembangan
teknologi, menjadikan radio mengalami penurunan peminat atau pendengar.
Berdasarkan riset yang dipublikasikan oleh
VOA Indonesia pada jelang akhir tahun 2012, didapatkan data yaitu sebanyak
11% dari penduduk Indonesia yang senantiasa memperoleh informasi dari radio,
dan sebanyak 1% masyarakat mendengarkan radio melalui internet (streaming).
Berdasarkan data tersebut, tentu dapat disimpulkan bahwa peminat media massa
radio masih terbilang minim. Peminat radio jauh lebih sedikit daripada peminat
TV yang mencapai angka 87%.
Kurangnya minat masyarakat terhadap
radio tentu disebabkan oleh alasan-alasan tertentu, seperti acara siaran yang
kurang menarik karena tidak terdapat bentuk sajian visual seperti yang
ditawarkan oleh TV dan situs berita online melainkan hanya bisa dinikmati
melalu indera pendengaran. Selain itu, isi konten radio yang dianggap monoton
dan kurang bervariasi serta anggapan “kuno” menjadi hal lain yang menyebabkan
radio kini kurang diminati khususnya oleh kalangan muda. Isi atau konten yang
kurang bermutu dan bersifat tidak edukatif yang kini sering ditampilkan oleh
media massa tentu juga menjadi salah satu masalah yang harus segara
diselesaikan. Tidak hanya itu, derasnya arus globalisasi juga menjadi salah
satu alasan kenapa radio kini kurang diminati oleh masyarakat. Globalisasi yang
berdampak pada kemajuan dibidang iptek menyebabkan masyarakat lebih memilih
teknologi yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman seperti smartphone yang
telah dilengkapi berbagai fitur menarik termasuk internet yang dapat digunakan
sebagai media dalam mengakses informasi atau sebuah berita. Semakin
berkembangnya fitur dalam smarthphone menyebabkan semakin menurunnya
pemanfaatan media massa seperti koran dan radio oleh masyarakat karena
menggunakan smartphone dinilai lebih praktis dan efisien. Apabila pemanfaatan
media massa terus menerus mengalami penurunan, maka media massa itu sendiri
akan mengalami kesulitan dalam melakukan perannya. Seperti yang telah
dijelaskan diatas, bahwa media massa memiliki peran sebagai wahana pengembang
kebudayaan tatacara, mode, gaya hidup, dan norma. Maka, seharusnya pemanfaatan
media massa dapat dioptimalkan sebaik mungkin, salah satunya ialah dengan
melalui radio. Banyaknya siaran radio yang hanya sekedar memberikan hiburan
tanpa mempertimbangkan sisi informatif dan edukatif harus segera dibenahi.
Penyiaran radio dengan isi konten yang informatif, edukatif, dan juga menghibur
dapat dilakukan dengan cara pengadaan program pengenalan budaya Indonesia yang
memiliki berbagai macam kearifan lokal yang kini mulai tergerus oleh arus
globalisasi.
Kearifan lokal yang mengandung
nilai-nilai luhur bangsa Indonesia harus terus dipertahankan dan diwariskan
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kearifan lokal yang menjadi salah
satu jati diri bangsa Indonesia harus terus disosialisasikan kepada masyarakat
dengan berbagai cara seperti penyebaran informasi melalui media massa radio. Radio
yang mampu menyebarkan informasi secara luas hingga melewati batas geografis
serta harganya yang terbilang cukup terjangkau juga sistem operasionalnya yang
tidak rumit dapat menjadikan radio sebagai media massa yang mampu dan tepat
dalam menyebarkan informasi khususnya mengenai kearifan lokal bangsa Indonesia
sehingga kearifan lokal tersebut bisa tetap terjaga dan lestari.
Menurut Wikipedia, radio
adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi
dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Cara operasionalnya
yang menggunakan gelombang elektromagnetik menjadikan radio sebagai media massa
yang memungkinkan untuk merambah daerah-daerah yang berada di wilayah pelosok.
Hal tersebut menjadi suatu hal yang positif karena dengan begitu radio mampu
mendongkrak penyebaran infromasi dan berita hingga ke wilayah yang mungkin
belum mampu dijangkau oleh media massa lain seperi TV. Akses penggunaan radio
yang bisa diperoleh dengan cukup mudah juga menjadi nilai plus bagi radio
sebagai salah satu media massa yang mampu mengoptimalkan penyebaran informasi
edukatif seperti ragam kearifan lokal nusantara.
Kearifan lokal adalah segala
bentuk kebijaksanaan yang didasari oleh nilai-nilai kebaikan yang dipercaya,
diterapkan dan senantiasa dijaga keberlangsungannya dalam kurun waktu yang
cukup lama (secara turun-temurun) oleh sekelompok orang dalam lingkungan atau
wilayah tertentu yang menjadi tempat tinggal mereka. Sedangkan dalam UU NO.32
Tahun 2009 kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku di dalam tata
kehidupan masyarakat yang bertujuan untuk melindungi sekaligus mengelola
lingkungan hidup secara lestari. Kearifan lokal itu sendiri dapat terwujud
dalam beberapa bentuk, seperti :
1.
Pola pikir masyarakat yang berbudi pekerti baik.
2.
Perasaan mendalam terhadap tanah kelahiran.
3.
Bentuk perangai/tabiat masyarakat kebanyakan pada daerah tertentu yang akan
tetap melekat dan dibawa saat berbaur dengan kelompok masyarakat/lingkungan
yang berbeda.
4.
Filosofi hidup masyarakat tertentu yang mendarah daging dan tetap lekat meski
telah lama hidup di perantauan.
5.
Keinginan besar untuk tetap menjalankan adat/tradisi yang telah lama diikuti
secara turun-temurun.
Kearifan lokal tumbuh dan
menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat itu sendiri, yang kemudian membentuk
sebuah tatanan nilai dan norma yang dijadikan oleh masyarakat setempat sebagai
acuan dalam bertindak dan berperilaku. Pada setiap daerah di Indonesia tentu
memiliki kearifan lokal yang berbeda mengingat budaya Indonesia yang sangat
beragam. Meskipun tiap daerah memiliki kearifan lokal yang berbeda, kearifan
lokal tersebut tetap mengandung nilai-nilai luhur yang mencerminkan jati diri
bangsa. Adapun contoh kearifan lokal yang terdapat di Indonesia seperti etnis
Lampung yang terkenal terbuka dalam menerima etnis lain sebagai saudara (adat
muari, angkon), etnis Jawa yang terkenal dengan tata-krama dan perilaku yang lembut,
serta nilai-nilai lain seperti gotong royong, toleransi, dan rasa cinta
terhadap alam yang pada dasarnya terdapat pada hampir setiap kearifan lokal
yang tersebar di seluruh nusantara.
Dewasa ini, nilai-nilai luhur
yang bersumber dari kearifan lokal nusantara lama-kelamaan mulai tedesak
keberadaannya karena adanya pengaruh dari globalisasi. Globalisasi yang
mengaburkan sekat-sekat antarbangsa tentu mempermudah budaya asing untuk masuk
ke dalam negeri. Budaya asing yang tidak mampu diserap dengan baik oleh
masyarakat maka akan menimbulkan penyimpangan dalam kehidupan masyarakat
seperti pola perilaku masyarakat Indonesia yang menjadi konsumtif, meningkatnya
rasa individualisme dan meningkatnya hedonisme. Hal-hal negatif tersebut tentu
bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur dari kearifan lokal nusantara yang
notabennya selalu mencerminkan sikap gotong royong, toleransi, dan ajaran untuk
selalu “down to earth”. Lunturnya nilai-nilai positif dari beragam kearifan
lokal nusantara yang seharusnya terus menerus dibudayakan dapat menyebabkan
hilangnya jati diri bangsa dan perubahan tatanan sosial dalam masyarakat akibat
pergeseran terhadap nilai dan norma yang berlaku.
Kearifan lokal yang merupakan
refleksi kepribadian bangsa Indonesia dan mengandung pengajaran positif
sejatinya tidak boleh hilang dari dalam diri tiap rakyat Indonesia. Kearifan
lokal harus terus dijaga dan dilestarikan dengan menempuh berbagai cara. Salah
satu cara yang dapat dilakukan adalah melakukan sosialisasi mengenai
keberanekaragaman kearifan lokal nusanntara melalui media massa radio. Radio
yang mampu mencakup siaran hingga ke daerah pelosok akan lebih memudahkan
proses sosialisasi tentang kearifan lokal kepada para masyarakat. Sosialisasi
mengenai ragam kearifan lokal nusantara dapat dilakukan melalui siaran radio
yang membahas tentang berbagai macam kebudayaan di Indonesia. Siaran radio juga
harus mulai memutar musik atau lagu-lagu tradisional. Banyaknya anggapan bahwa
musik tradisional adalah jenis musik yang membosankan dan tidak menarik, maka
hal tersebut dapat diatasi dengan memutar musik atau lagu tradisional yang
telah diaransemen. Pemutaran musik kedaerahan harus lebih sering dilakukan agar
masyarakat lebih mengenal kebudayaannya sendiri. Selain itu, musik atau lagu tradisional
bukanlah sekedar lagu seperti lagu-lagu pop dewasa ini yang memiliki lirik kurang
edukatif. Pada setiap musik dan lagu tradisional nusantara pasti memiliki
filosofi tersendiri dan terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung
didalamnya baik secara tersirat maupun tersurat. Salah satu contohnya adalah
lagu tradisional dari Jawa yang berjudul Lir Ilir. Di dalam lagu tersebut
terdapat nilai-nilai yang mengajarkan untuk senantiasa bangkit dari
keterpurukan, bangun dari sifat malas, dan mengajarkan untuk selalu
meningkatkan keimanan kepada sang pencipta. Lagu-lagu tradisional yang
mengandung kearifan lokal tersebut harus terus diperdengarkan melalui radio
agar tetap dapat dilestarikan serta nilai-nilai yang terdapat dalam kearifan
lokal dalam masing-masing lagu tradisional dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Untuk lebih mengoptimalkan siaran mengenai ragam kearian lokal,
maka dapat dibuat sebuah segmen khusus dalam sebuah siaran radio dimana segmen
tersebut adalah segmen yang menyajikan berita atau memberikan informasi
mengenai ragam budaya Indonesia dan kearifan lokal nusantara yang terkandung di
dalamnya. Segmen yang mensosialisaikan ragam kearifan lokal nusantara tersebut
dapat diisi dengan pemutaran musik atau lagu tradisional atau bahkan lagu
kebangsaan, interview dengan tokoh yang memiliki kontribusi dalam bidang
budaya, pembahasan mengenai suatu budaya tertentu yang dilakukan secara
mendetail, serta penyiaran budaya daerah seperti penyiaran kesenian wayang. Di
dalam segmen tersebut juga perlu diadakan sebuah forum sharing dengan pendengar
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kearifan lokal nusantara sehingga
pendengar tidak hanya menerima informasi dari penyiar atau narasumber yang
berada dalam sebuah siaran radio, melainkan juga dapat memberikan sebuah
wawasan kepada masyarakat lain sehingga ciri khas media massa radio yang sering
melakukan dialog interaktif dengan audience tetap dapat dilestarikan. Adanya
sharing yang dilakukan dengan audience juga meupakan salah satu cara agar
masyarakat turut aktif terlibat dalam siaran radio tersebut.
Optimalisasi dalam hal
penggunaan radio oleh masyrakat juga harus lebih ditingkatkan. Perlu diadakan
gerakan yang mengkampanyekan penggunaan radio sebagai media massa yang
edukatif. Sukses atau tidaknya pemanfaatan radio sebagai media massa yang
mensosialisasikan kearifan lokal nusantara tentu juga tergantung pada
masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia harus memiliki kesadaran diri untuk
“melek” media massa dan menyudahi anggapan mereka terhadap radio sebagai media
massa yang kuno dan terbelakang. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran
apabila kearifan lokal nusantara merupakan sebuah asset bangsa yang harus
selalu dijaga dan dilestarikan. Tidak hanya itu, diperlukan juga kerja sama
yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan pihak yang berkecimpung dalam
bidang radio di Indonesia agar dapat menjadikan radio sebagai media massa yang
peduli terhadap kearifan lokal nusantara.
PENUTUP
Globalisasi merupakan sebuah
proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial
budaya menjadi kurang penting seolah tak ada lagi sekat-sekat wilayah antara
wilayah satu dengan wilayah yang lain yang menyebabkan mudahnya arus pertukaran
informasi yang dapat dilakukan dengan cepat karena diimbangi dengan
perkembangan teknologi yang mumpuni. Kemudahan dalam hal pertukaran informasi
mengakibatkan mudahnya budaya asing yang menyimpang dari tantanan nilai dan
norma masyarakat masuk ke dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Masuknya
budaya asing yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku menyebabkan
nilai-nilai luhur yang sejatinya terkandung dalam kearifan lokal nusantara
menjadi luntur dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, perlu diadakan
sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus mengenai pentingnya pelestarian
kearifan lokal nusantara melalui media massa radio. Radio dipilih sebagai media
massa yang mensosialisasikan hal tersebut karena radio mampu menjangkau wilayah
yang sangat luas bahkan hingga ke daerah pelosok. Adapun hal-hal yang bisa
dilakukan melalui radio dalam hal pelestarian kearifan lokal nusantara ialah
dengan mengadakan segmen khusus dalam siaran radio yang menyiarkan informasi
mengenai ragam kearifan lokal, budaya, dan kesenian masyarakat Indonesia.
Program pelestarian kearifan lokal nusantara melalui radio tersebut harus
digalakkan secara terus-menerus sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam
berbagai ragam kearifan lokal nusantara dapat kembali dan senantiasa
diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat serta menjadikan radio sebagai media
massa yang kembali eksis dengan konten berbobot ditengah-tengah masyarakat.
Tidak hanya radio yang diharapkan akan kembali eksis, tetapi juga ragam
kearifan lokal nusantara yang kembali diaplikasikan dalam tatanan hidup
masyarakat Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA/SUMBER
http://www.zonasiswa.com (Pengertian Globalisasi : Segi Bahasa, Istilah, & Pendapat Para Ahli)
http://diluarpengetahuan.blogspot.com (Dampak Positif Dan Negatif Globalisasi Bidang Sosial Budaya)
http://buihkata.blogspot.com (Sejarah Singkat Perkembangan Radio di Indonesia)
http://www.pengertianmenurutparaahli.net/ (Pengertian kearifan lokal secara umum)
http://reload.mwb.im/ (Makna lagu Lir Ilir)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar