BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia
merupakan salah satu negara yang memiliki beraneka ragam jenis
kebudayaan.Kebudayaan sendiri memiliki arti keseluruhan sistem gagasan, tindakan
dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik
diri manusia dengan belajar.Indonesia dengan berbagai suku bangsa mempunyai
keanekaragaman kearifan lokal, kearifan daerah, dan budaya yang didalamnya
terkandung nilai-nilai etik dan moral, serta norma-norma yang sangat
mengedepankan pelestarian fungsi lingkungan.Setiap daerah di Indonesia memiiki
beragam bentuk tradisi daerah.Keberagaman tradisi daerah tersebut adalah bagian
dari kebudayaan setempat yang tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan
jaman.Tradisi daerah pada umumnya juga tidak dapat diketahui secara pasti kapan
dan siapa penciptanya.Hal ini dikarenakan tradisi daerah bukan merupakan hasil
kreativitas individu, tetapi tercipta secara anonim bersama kreativitas
masyarakat yang mendukungnya. (Karyam, 1981 : 60)
Tana
Toraja merupakan salah satu daerah yang memiliki tradisi yang unik.Secara
geografis, Tana Toraja merupakan daerah yang berbukit-bukit dan
bergunung-gunung.Sehingga akses dari suatu tempat ke tempat lain menjadi cukup
sulit.Kabupaten Tana Toraja beribukota Makale, terletak sekitar 329 km
disebelah utara kota Makasar.Suku
Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan,
Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 650.000 jiwa, dengan 450.000 di
antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja.Mayoritas suku Toraja memeluk
agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang
dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan
ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Tana Toraja sangat terkenal dengan
adat istiadat yang masih sangat kental.Adat istiadat ini banyak dipengaruhi
oleh kepercayaan orang Toraja pada jaman dulu yang disebut Aluk.Aluk merupakan kepercayaan sejenis
animisme.Salah satu adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Tana Toraja
adalah upacara pemakaman yang dsebut Rambu Solo’.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Apa
yang dimaksud dengan upacara Rambu Solo’?
1.2.2
Bagaimana
proses berlangsungnya upacara Rambu Solo’?
1.3
Tujuan
1.3.1
Untuk
mengetahui salah satu kebudayaan Indonesia yakni upacara Rambu Solo’.
1.3.2
Untuk
memperdalam pengetahuan mengenai upacara Rambu Solo’.
1.4
Manfaat Penulisan
1.4.1
Manfaat Untuk Penulis
·
Sebagai
kajian pembelajaran.
·
Dapat
membagikan informasi kepada masyarakat mengenai salah satu kebudayaan Indonesia
yakni Rambu Solo’.
1.4.2
Manfaat Untuk Pembaca
·
Dapat
menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai budaya Indonesia.
PEMBAHASAN
A.Pengertian
Upacara Rambu Solo’
Rambu Solo’ adalah upacara adat kematian masyarakat
Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang
meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para
leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan.Upacara ini sering juga disebut
upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap
benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi.Jika belum,
maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau
“lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu
dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman bahkan
selalu diajak berbicara.
B.Prosesesi
Upacara Rambu Solo’
Pelaksanaan upacara Rambu Solo’
dibedakan menjadi empat tingkatan, yakni :
1. Dipasang Bongi : Upacara yang hanya dilaksanakan
dalam satu malam.
2. Dipatallung Bongi : Upacara yang berlangsung selama tiga
malam dan dilaksanakan dirumah dan ada pemotongan hewan.
3. Dipalimang Bongi : Upacara pemakaman yang berlangsung
selama lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah serta pemotongan hewan.
4. Dipapitung Bongi : Upacara pemakaman yang berlangsung
selama tujuh malam setiap harinya ada pemotongan hewan.
Rambu Solo’ merupakan acara tradisi
yang sangat meriah di Tana Toraja, karena memakan waktu berhari-hari untuk
merayakannya.Upacara ini biasanya dilaksanakan pada siang hari, saat matahari
mulai condong ke barat dan biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari.Bahkan bisa
sampai dua minggu untuk kalangan bangsawan.Kuburannya sendiri dibuat di bagian
atas tebing di ketinggian bukit batu.Karena menurut kepercayaan Aluk To Dolo
(kepercayaan masyarakat Tana Toraja dulu, sebelum masuknya agama Nasrani dan
Islam) di kalangan orang Tana Toraja, semakin tinggi tempat jenazah tersebut
diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana.
Orang Toraja yang meninggal tidak
langsung di kuburkan namun kadang di simpan di rumah sampai 6 tahun karena
menurut adat mereka orang yang sudah mati baru dapat di kuburkan setelah
melalui proses upacara Rambu Solo’ (upacara pemakaman) yang memakan biaya tidak
sedikit terkadang sampai ratusan juta rupiah.
Upacara ini bagi
masing-masing golongan masyarakat tentunya berbeda.Bila bangsawan yang
meninggal dunia, maka jumlah kerbau yang akan dipotong untuk keperluan acara
jauh lebih banyak dibanding untuk mereka yang bukan bangsawan.Untuk keluarga
bangsawan, jumlah kerbau bisa berkisar dari 24 sampai dengan 100 ekor kerbau.Sedangkan
warga golongan menengah diharuskan menyembelih 8 ekor kerbau ditambah dengan 50
ekor babi, dan lama upacara sekitar 3 hari.Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa,
tetapi kerbau bule Tedong Bonga yang
harganya berkisar antara 10 sampa 50 juta atau lebih per ekornya.
Tapi,
sebelum jumlah itu mencukupi, jenazah tidak boleh dikuburkan di tebing atau di
tempat tinggi.Oleh karena itu, tak jarang jenazah disimpan selama bertahun-tahun
di Tongkonan (rumah adat Toraja) sampai akhirnya keluarga almarhum/almarhumah
dapat menyiapkan hewan kurban.Namun bagi penganut agama Nasrani dan Islam kini,
jenazah dapat dikuburkan dulu di tanah, lalu digali kembali setelah pihak
keluarganya siap untuk melaksanakan upacara ini.
Prosesi
Pemakaman atau Rante tersusun dari acara-acara yang berurutan.Prosesi Pemakaman
(Rante) ini diadakan di lapangan yang terletak di tengah kompleks rumah adat
Tongkonan.Acara-acara tersebut antara lain :
·
Ma’Tudan Mebalun, yaitu proses
pembungkusan jasad.
·
Ma’Roto,
yaitu proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang
perak.
·
Ma’Popengkalo
Alang, yaitu proses perarakan jasad yang telah dibungkus ke sebuah lumbung
untuk disemayamkan.
·
Ma’Palao atau Ma’Pasonglo, yaitu proses
perarakan jasad dari area rumah Tongkonan ke kompleks pemakaman yang
disebut Lakkien.Proses ini meliputi berbagai kegiatan yang diawali dengan pemindahan jenazah dari rumah duka
menuju tongkonan pertama (tongkonan tammuon), yaitu tongkonan dimana ia
berasal.
Di sana
dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa
Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja,
menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja.Kerbau yang akan
disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu.
Setelah
itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagikan kepada mereka yang
hadir sebagai wujud sumbangsih dan
bakti kepada masyarakat sekitar/solidaritas sosial.
Jenazah
berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu keesokan
harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas
lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di
tongkonan yang pertama, yaitu penyembelihan kerbau dan dagingnya akan
dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut.
Seluruh
prosesi acara Rambu Solo’ selalu dilakukan pada siang hari.Jenazah diusung
menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja).Di depan duba-duba terdapat
lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda
jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita
dalam keluarga itu).
Prosesi
pengarakan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante (lapangan tempat acara
berlangsung) dilakukan setelah kebaktian dan makan siang.Barulah keluarga dekat
arwah ikut mengusung keranda tersebut.Para laki-laki yang mengangkat keranda
tersebut, sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba.Dalam pengarakan terdapat
urut-urutan yang harus dilaksanakan, pada urutan pertama terdapat orang yang
membawa gong yang sangat besar, lalu diikuti dengan tompi saratu (atau yang
biasa kita kenal dengan umbul-umbul), lalu tepat di belakang tompi saratu ada
barisan tedong (kerbau) diikuti dengan lamba-lamba dan yang terakhir barulah
duba-duba.
Jenazah
tersebut akan disemayamkan di rante (lapangan khusus tempat prosesi
berlangsung), di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari
bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai
tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti.Karena selama acara
berlangsung mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap
di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka.
Iring-iringan
jenazah akhirnya sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di lakkien
(menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung).Menara
tersebut merupakan bangunan yang paling tinggi di antara lantang-lantang yang
ada di rante.Lakkien sendiri terbuat dari bambu dengan bentuk rumah adat
Toraja. Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur.Di
rante sudah siap dua ekor kerbau yang akan ditebas.
Setelah
jenazah sampai di lakkien, acara selanjutnya adalah penerimaan tamu, yaitu
sanak saudara yang datang dari penjuru tanah air.Pada sore hari setelah prosesi
penerimaan tamu selesai, dilanjutkan dengan hiburan bagi para keluarga dan para
tamu undangan yang datang, dengan mempertontonkan ma’pasilaga tedong (adu
kerbau).
Pemakaman kematian bagi masyarakat
Toraja menjadi salah satu hal yang paling bermakna, sehingga tidak hanya
upacara prosesi pemakaman yang dipersiapkan ataupun peti mati yang dipahat menyerupai
hewan (Erong), namun mereka juga mempersiapkan tempat “peristirahatan terakhir”
dengan sedemikian apiknya, yang tentunya tidak lepas dari strata yang berlaku
dalam masyarakat Toraja maupun ekonomi individu. Pada umunya tempat menyimpan jenazah adalah gua atau tebing gunung atau dibuatkan sebuah rumah (Pa’tane).Budaya ini telah diwarisi secara turun temurun oleh leluhur mereka.Adat masyarakat Toraja menyimpan jenazah pada liang gua atau tebing merupakan kekayaan budaya yang begitu menarik untuk disimak lebih dalam lagi.Dapat dijumpai puluhan Erong yang berderet dalam bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak disisi batu menandakan petinya telah rusak akibat di makan usia.Selain itu, terdapat sebuah atribut yang sangat kental dengan upacara Rambu Solo’, yakni Tao-Tao.Tao-Tao merupakan patung dari kayu yang dibuat mirip dengan orang yang telah meninggal.Masyarakat Toraja percaya bahwa kehadiran Tao-Tao ialah sebagai wakil dari almarhum, yang selalu menjaga makam dan selalu hidup.Namun tidak semua orang Toraja yang meninggal bisa dibuatkan Tao-Tao.Biasanya hanya yang bergelar bangsawan saja yang berhak dibuatkan.Dan semakin mirip Tao-Tao dengan orang yang meninggal, maka semakin mahal pula harganya, dan berarti semakin tinggi pula kedudukan orang tersebut
Prosesi yang kedua adalah Pertunjukan Kesenian.Prosesi ini
dilaksanakan tidak hanya untuk memeriahkan tetapi juga sebagai bentuk
penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal.Prosesi kesenian ini
meliputi :
- Perarakan kerbau yang akan menjadi kurban.
- Pertunjukan beberapa musik daerah, yaitu Pa’Pompan, Pa’Dali-dali, dan Unnosong.
- Pertunjukan beberapa tarian adat, antara lain Pa’Badong, Pa’Dondi, Pa’Randing, Pa’katia, Pa’Papanggan, Passailo dan Pa’Silaga Tedong.
- Pertunjukan Adu Kerbau, sebelum kerbau-kerbau tersebut dikurbankan.
- Penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tana Toraja
merupakan salah atu daerah di Indonesia yang memiliki beranekaragam kebudayaan
yang salah satunya ialah upacara Rambu Solo’.Upacara Rambu Solo’ merupakan upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang
bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia
menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di
sebuah tempat peristirahatan yang dilaksanakan dengan mewah dan meriah.Upacara
ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yang
meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara
ini digenapi.Upacara yang memiliki berbagai proses pelaksanaan ini merupakan
salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki keistimewaan tersendiri sehingga
harus tetap dilaksanakan dan dilestarikan oleh seluruh bangsa Indonesia,
khususnya masyarakat asli Tana Toraja.
3.2
Saran
Upacara
Rambu Solo’ merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang harus
dilestarikan.Untuk melestarikan kebudayaan ini, dapat dilakukan dengan berbagai
cara seperti : 1.Mempelajari lebih dalam mengenai kebudayaan Rambu Solo’
2.Mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai Upacara Rambu Solo
Masyarakat Tana Toraja harus senantiasa menjaga keaslian serta melaksanakan Upacara Rambu Solo’.
3.3 Daftar Pustaka
2.http://hasanuddin-airport.co.id/detail/wisata/upacara-adat-rambu-SOLO’039-upacara-pemakaman--toraja
·
Mencari Judi Taruhan Online Terbesar yang Aman dan Terpercaya?
BalasHapusTenang saja, ada Agen BOLAVITA yang menyediakan Judi Taruhan Online yang terbesar dan terlengkap..
Agen BOLAVITA berani membayar berapapun kemenangan Anda!!
Judi Taruhan Online yang disediakan Agen BOLAVITA cukup banyak dan menarik:
♠ Bola Tangkas (Tangkasnet, Tangkas88 dan Tangkas1)
♠ Casino Online (WM Casino, Green Dragon dan SBOBET Casino)
♠ Judi Bola (SBOBET, MAXBET/ICB Bet dan 368Bet)
♠ Sabung Ayam (S128, SV388 dan Kungfu Chicken)
♠ Slot Games (Joker dan Play1628)
♠ Togel (KLIK4D dan ISIN4D)
Dengan minimal deposit hanya Rp 50.000 saja sudah bisa mainkan permainan yang ada di atas..
Tunggu apalagi? Segera daftar dan gabung sekarang juga di www.bolavita.ltd
Baca juga:
1. Cara Membuat Akun dan Bermain di Situs S128
2. Promo Promo BOLAVITA
Untuk info selanjutnya, bisa hubungi kami VIA:
BBM : BOLAVITA / D8C363CA
Whatsapp : +62812-2222-995
Livechat 24 Jam